Do you find your Faith???

Pasti kamu pernah melihat atau mendengar cerita mengenai Penyulap yang memainkan sulap mengeluarkan kelinci dari dalam topi. Permainan ini sangatlah filosofis, mengapa? Jika kalian menjadi sang kelinci, apakah kalian tertarik untuk mengenal dan menemukan Siapa yang mengeluarkan anda dari dalam topi??

Di negara saya hampir saya yakin 99% bahwa kepemilikan suatu agama oleh seseorang masih bersifat given, not gotten.

Kita tidak pernah diajarkan untuk mencari sesuatu dengan cara masing-masing. disini kita terlahir beragama, mau tidak mau suka tidak suka, kita mempelajari dalam konteks in the wall. Sejak kecil kita sudah didoktrin dan dijejali semua hal yang menurut keluarga kita benar, tanpa memberi kemerdekaan bagi kita sebagai manusia untuk mencari dan memilih.

Coba kita tanya ke diri kita masing-masing, jika Tuhan melahirkan kita di waktu dan tempat yang berbeda dengan keluarga yang beragama lain dengan yang kita dapat sekarang, apa kamu sanggup berjanji bahwa kamu akan melakukan pencapaian dan percaya pada apa yang dulu kamu percaya??

Lagi-lagi 99% saya akan berpendapat bahwa anda pasti tidak akan berpindah kepercayaan kecuali anda termasuk orang yang berani untuk keluar dari dalam topi dan mencari Sang Penyulap. Lantas apa bedanya kita dengan siti nurbaya jika kita masih dijodohkan dengan kepercayaan kita??

Saya percaya dan yakin bahwa agama itu baik, dan tidak ada bukti otentik yang bisa menyebutkan agama itu salah, dan juga sebaliknya tidak ada bukti otentik yang dapat membuktikan bahwa agama itu benar. Sebab agama adalah kepercayaan, bukanlah sesuatu yang dapat dipegang dan diraba. Agama itu tidak berwujud dan tidak berbau.

Beberapa referensi menyebutkan bahwa agama masih diajarkan menggunakan metode in the wall dimana kita diajarkan tanpa boleh melihat keluar dari konteks yang ada. semua yang ada di dalam adalah benar, lalu apa yang terjadi dengan dunia diluar sana?? Semua yang berada di luar dianggap tabu dan bertentangan dengan yang ada di dalam tembok.

Lalu metode lain adalah in at and beyond the wall. Metode ini menggunakan metode pendekatan bahwa kita harus tau semua keragaman yang ada di dunia tempat tembok itu dibangun. sehingga kita nanti pada akhirnya akan menghargai semua yang ada di luar tembok. Namun metode ini masih saja mewajibkan para pesertanya untuk kembali lagi ke dalam tembok. Ooo dear Lord, ternyata agama masih saja given hanya saja lebih diperhalus.

Saya memiliki ide bagaimana jika semasa kecil kita diajarkan filosofi bukannya agama tertentu, sehingga kita memiliki kesempatan untuk mencari dan menemukan our Faith bukannya hanya diam tunduk dan mempercayai apapun yang dikatakan tanpa pernah menemukannya sendiri. Puisi Indrian Koto yang tercetak dalam surat kabar beberapa waktu yang lalu nampaknya sesuai untuk tulisan saya ini

 

Mimpi

 

barangkali kematian berlangsung seperti bangun dari tidur

kau hanya mampu mengingat mimpi semalam

sepotong demi sepotong

 

bisa jadi kalian hanya mimpiku saja

dunia dan seluruh semesta yang kukenali ini 

karangan-karangan sederhana

yang ditulis penyair setengah mabuk setengah ngantuk

lalu, begitu aku terbangun

tak ada perang, tak ada yang terbunuh,

tak ada tangisan, tak ada kehilangan

 

bahkan agama, bangsa, dan benua

bisa jadi istilah baru ketika bangun nanti

suatu hari yang rasanya dekat sekali

…dan sang kelinci pun dengan ragu berhenti di tepi topi dan bertanya pada dirinya sendiri, apakah pantas meninggalkan dunia topi yang hangat dan nyaman untuk mencari Sang Penyulap di dunia luar sana…

6 comments on “Do you find your Faith???

  1. annlistyana says:

    agama, lagi2 ngomongin agama, tapi memang iya, di Indonesia, agama itu pemberian dari orang tua, bukan dari pencarian. yah karena aku seperti itu, no more coment deh. haha salam woyow

  2. saya percaya manusia itu dilahirkan lengkap untuk dirinya sendiri. termasuk lengkap dengan hasrat untuk menemukan apa yang dia perlukan namun belum ada. termasuk iman, agama, kepercayaan, Tuhan, dan entah dengan nama apa lagi kita menyebutnya. tidak ada kondisi apapun yang bisa membatasi seseorang untuk mempertanyakan dan mencari kalau bagi dia memang ada yang perlu dipertanyakan dan dicari. bagaimana dia menanggapi hasrat itu, ya itu mungkin pilihan terbaik yang bisa dia pilih buat dirinya. *gue ngemeng epeee…

    hehe, ya begitu deh… my belief is the truth for me, it doesn’t have to be the truth for everybody else, and vice versa.

  3. merzyta says:

    Tuhan memang satu, kita yang tak sama…. *nyanyi*

    Jadi, apa kabar kelincinya om? stop animal cruelty dong ahh😦

  4. puput says:

    setujuuu bgt sama ide semasa kecil kita diajarkan filosofi bukannya agama tertentu..tohhh kebenaran Allah,tuhan apapun namanya gak akan berkurang sedikitpun krn ada keraguan org…tapi keluarga kita msh takut memberi kemerdekaan didiri kita atau takut krn ada kebenaran di agama lain;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s